Menggali Masa Lalu Menatap Masa Depan

Pagi yang cerah, Jumat, 27 Mei 2016, di Ruang Dekan FIS UNP sedang berlangsung acara diskusi panel bertema “Menggali Masa Lalu, Menatap Masa Depan.” Sesuai dengan tema, jelas bahwa acara yang dilaksanakan oleh kerjasama Labor Jurusan Sejarah FIS UNP dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumbar ini mengarahkan pikiran kita pada dua masa yang mengapit masa kehidupan kita kini,masa yang sudah berlalu atau sejarah dan masa yang akan datang. Inilah yang menjadikannya menarik, dengan memadukan masa lalu dan masa depan dalam sebuah tema diskusi.

Agenda bulanan ini adalah kali kedua, dengan dibuka langsung oleh ketua jurusan Sejarah Dr. Erniwati, M.Hum dan Ketua MSI Sumbar, Wannori, M.Hum, Ph.D. Kuliah umum kali hanya saja berbeda dari seblumnya yg menghadirkan dua pemateri sekaligus yaitu, Sekretaris jurusan sejarah UNP Ofianto dan Dosen Jurusan Sejarah UNAND Yudi Andoni. Masing-masing pemateri memaparkan materi dengan kekhasan masing-masing, dimana Ofianto sebagai pemateri pertama, melalui layar proyektor ia menampilkan powerpoint dengan judul “Memaknai 57 Tahun Hari Kebangkitan Nasional.”

Pemilihan judul ini sekaligus mengingatkan kita pada momen pembentukan organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908, kemudian tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Salah satu Kebijakan Politik Etis di bidang pendidikanlah yang memungkinkannya terwujud. Dengan demikian, momen kebangkitan nasional menjadi tak terlepas dari peringatan Hari Pendidikan Nasional yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari kelahiran Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hadjar Dewantara.

Dengan begitu, dapat dibayangkan materi yang akan dipaparkan akan terkait dengan pendidikan nasional kita. Terdapat tiga faktor yang berimplikasi pada peningkatan pendidikan nasional kita saat ini, menurutnya, pentingnya peningkatan pada kualitas sumber daya manusia, akses terhadap pendidikan yang dapat dijangkau oleh masyarakat secara luas, dan peningkatan pada mutu pendidikan.“ Ia melanjutkan, “sebagai tolok ukur, pemahaman terhadap literasi, dalam hal ini literasi dipahami secara luas, berkaitan dengan praktik yang berkaitan dengan kehidupan sosial; kualitas manusia yang dihasilkan oleh pendidikan; dan kompetensi yang menyangkut pendidikan nasional secara keseluruhan.”

Ia menutup dengan menjelaskan tantangan yang akan oleh pendidikan nasional kita, khususnya terkait dengan perkembangan teknologi yang semakin masif. Menurutnya, perkembangan ini akan memengaruhi cara hidup, cara belajar, dan cara bekerja manusia yang akan berbeda dari masa sebelumnya, yang akan menggiring pada kemerosotan apabila tidak cepat ditanggapi dengan formulasi-formulasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pun sebaliknya, akan meningkatkan kualitas pendidikan apabila tantangan itu dapat dijawab.

Pembahasan selanjutnya disampaikan oleh Yudi Andoni dengan judul “Gagalnya ‘Ideologi’ Keindonesiaan.” Berbeda dengan materi sebelumnya, Yudi menggunakan layar proyektor hanya untuk menayangkan beberapa gambar, sedangkan materi disampaikannya menggunakan makalah yang telah dibagikan pada para peserta diskusi.

Pemaparannya diawali dengan cerita singkat tentang perjalanannya ke beberapa negara. Kesimpulannya, walaupun sama-sama berpenduduk heterogen, kemerdekaan di negara lain seperti, Filipina dan Malaysia tidak sama dengan kemerdekaan Indonesia yang menghasilkan konsep nasionalisme. Selanjutnya ia menjelaskan, “sayangnya, di antara beberapa negara tersebut, Indonesia berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan, di mana negara, yang pasalnya merupakan hasil konstruksi bangsa, malah mengkoloni bangsa.”

Konsep Ben, yang memiliki nama lengkap Benedict Richard O’Gorman Anderson mengenai nasionalisme yang dianggap sebagai suatu komunitas terbayangkan atau immagined communities, oleh Yudi, dianggap sebagai suatu pandangan seorang ilmuan yang “melihat dari geladak kapal.” Menurutnya, jaringan kebangsaan telah terjalin di Nusantara sejak lama oleh masyarakat. Namun, ia melihat nasionalisme mengalami “sakralisasi” selama perjalanan sejarah Indonesia sejak masa pendudukan Jepang.

Selain itu, ia juga menaruh keprihatinannya pada pendidikan nasional, yang menurutnya telah mengingkari pendidikan yang telah dirintis sebelum masa kemerdekaan yang berkontribusi besar terhadap kemerdekaan Indonesia. Ia menjelaskan, “kegagalan ini berkaitan dengan kegagalan dalam mengkonversi nasionalisme yang disakralisasikan.”

Dalam pengujung acara, Guru Besar Jurusan Sejarah UNP Mestika Zed, memberi catatan kecil pada dua pemateri yang pernah belajar di bawah bimbingannya itu. Kepada pemateri yang pertama, ia menyanggah, “akan lebih baik bila peningkatan kualitas manusia Indonesia difokuskan pada yang telah memiliki kemampuan literasi dasar, yakni baca-tulis yang persentasenya jauh lebih besar dari yang belum memiliki kemampuan dasar, agar dapat memacu peningkatan kualitas manusia yang juga berkaitan dengan mutu pendidikan nasional kita.”

Kepada pemateri kedua, ia memberi catatan kecil pada penjelasan yang terkait dengan sub judul “Revolusi sebagai Pasar.” Menurutnya, revolusi merupakan sebuah eforia yang lazim di masa itu dan hanya berjalan sesaat. Dengan begitu, menjadi tidak tepat jika kita menganggap revolusi pada masa itu sebagai sebuah pasar yang, dengan demikian mengindikasikan adanya beberapa orang yang memanfaatkannya untuk tujuan tertentu.

Sekitar jam 12.00 WIB, acara diskusi panel bertema “Menggali Masa Lalu, Menatap Masa Depan” ini ditutup dengan penyerahan cenderamata oleh Ketua Jurusan Sejarah UNP Erniwati kepada pemateri, Ofianto dan Yudi Andoni. (*)

Wednesday the 20th. Affiliate Network Reviews. FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG ADMIN IT : INFO@FIS.UNP.AC.ID / RUDMAHES@UNP.AC.ID
Copyright 2012

©