Seminar sehari tragedi peristiwa 30 september 1965 “mengingat yang lupa”

Created on Friday, 07 October 2016 Published Date

Padang, 3/10/2016, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengadakan seminar sehari. Seminar yang bertempat di Aula FIP lantai 4 inimerupakan acara yang bertujuan untuk menginga ttragedi 30 September.

Tragedi ini merupakan peristiwa memilukan bagi sejarah bangsa Indonesia, yang mana padasaat itu, tujuh orang Jenderal menjadi korban pembantaian gerakan ini.Peristiwa ini dikenal sebagai salah satu peristiwa sejarah yang kontroversial di Indonesia.Peristiwa yang menimbulkan perdebatan antar Sejarawan ataupun kalangan umum, dengan adanya seminar bertujuan membuka pandangan dalam menyikapi peristiwa G 30S/PKI.

Seminar ini dimulai jam 09.00 WIBdan dibuka langsung oleh Wakil Rektor III UNP. Dari perencanaan awal, acara ini hanya menampung 200 peserta, namun karena banyak yang yang ingin mengikuti, kuota akhirnya ditambah sehingga diperkirakan menjadi 250 orang, sepertinya yang diutarakan oleh ketua panitia seminar, Azmi Fitrisia, M.Hum, Ph.D.

Adapun pembicara dalam pelaksanaan seminar sehari ini yaitu Prof. Dr. Mestika Zed. MA,guru besar Sejarah UNP. Mestika Zed lahir di Batu Hampar, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 19 September 1955 yang merupakan salah seorang ahli sejarah Indonesia yang juga merupakan dosen di jurusan sejarah UNP. Pembicara kedua yaitu Dr. Wannofri Samry.M.Hum, yang merupakan  staf pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang baru saja berhasil meraih gelar Doktor bidang Sejarah di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Selangor, terpilih menjadi Ketua MSI Cabang Sumatera Barat melalui Mubes pada 29 Mei 2014 yang lalu di Gedung Joang 45 Sumatera Barat Jalan Samudera, Padang. Dr. Wannofri mengatakan bahwa “kesadaran sejarah harusnya dimulai dengan kesadaran sejarah lokal, memahami sejarah di lingkungan sendiri, baru setelah itu masuk ke sejarah nasional”. Dan Rusli Marzuki Saria, di Kamang KabupatenAgam,  pada 26 Februari  2015 nanti  genap berusia 81 tahun, merupakan saksi sejarah dalam peristiwa 30 september 1965. saat ini beliau masih aktif berkiprah dalam komunitas sastra baik sebagai penyair, pengamat maupun juri. Ketika sekolah di SMA Bukittinggi tahun 1956 ia telah mulai menulis puisi yang dimuat di ruangan Kuncup Muda Harian Haluan Padang. karya beliau sering dibacakan acara pembacaan  puisi dan sajak di Radio Republik Indonesia (RRI) Bukittinggi.

Para pembicara ini sangat luar biasa sekali menyampaikan materi, terutama bapak Rusly, selain menyampaikan materi beliau juga menyampaikan dua buah puisi yang membuat para penonton terkagum - kagum dan bertepuk tangan yang meriah. Ketika masuk ketahap diskusi, peserta antusias untuk memberikan beberapa pertanyaan kepada pemateri, tidak hanya berupa pertanyaan yang di berikan peserta seminar, tetapi beberapa tanggapan yang kritis dalam menanggapi tema diskusi. Semoga dengan adanya seminar ini, generasi muda intelektual semakin arif dan bijaksana dalam menanggapi setiap permasalahan bangsa, baik masa lalu, masa sekarang maupun masa yang akan datang. (MM14)

 

 

 

Tuesday the 21st. Affiliate Network Reviews. FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG ADMIN IT : INFO@FIS.UNP.AC.ID / RUDMAHES@UNP.AC.ID
Copyright 2012

©